-
ISLAM TERBUKTIK BENAR
Lazimnya, kita beragama cuma ikut orang tua sahaja. Kita tak fikir apa agama itu benar atau salah. Jika kita lahir di timur dar...i keluarga islam, maka kita islam. Jika kita lahir di barat dari keluarga christian, maka kita christian. Jika kita lahir di Himalaya dari keluarga budha, maka kita jadi bhisksu. 19 keyakinan, meski yakin...
-
Shalat Malam Rasulullah
Malam telah datang menjelang di langit kota Madinah, suasana gelap menyelimuti jagad raya. Namun Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam menerangi sudut-sudut kota dan menghidupkan malamnya. Beliau bermunajat kepada Allah Ta'ala Rabb alam semesta. Beliau memohon kepada Dzat yang mengurus segala perkara guna melaksanakan perintah...
-
CARA NABI MUHAMMAD S.A.W. BERDAKWAH
1. Dakwah Nabi Muhammad secara sembunyi: Beberapa bulan kemudian Jibril muncul lagi untuk menyampaikan wahyu berikutnya yang antaranya menyuruh Muhammad untuk memulai memimpin hamba Allah S.W.T. kejalan yang benar, jalan yang diridahi oleh Allah S.W.T, wahyu...
Rabu, 25 Desember 2013
Beberapa bulan kemudian Jibril muncul lagi untuk menyampaikan wahyu berikutnya yang antaranya menyuruh Muhammad untuk memulai memimpin hamba Allah S.W.T. kejalan yang benar, jalan yang diridahi oleh Allah S.W.T, wahyu tersebut berbunyai:
MAKSUDNYA:
"Hai orang yang berkemul (berselimut) banggunlah lalu beri peringatan" (QS AL-MUDATSIR: 1-2)
Turunnya wahyu tersebut membuat Allah lebih mantap. Kini ia siap untuk menerangkan hakekat kebenaran kepada manusia. Rasulullah memulai tugasnya untuk menegakkan kebenaran secara sembunyi-sembunyi di lingkungan rumah sendiri. Khadijah, istrinya yang setia itulah mula-mula beriman kepadanya. Dengan pengetahuannya yang luas dan sempurna tentang keindahan budi pekerti dan kebenaran semua perkataan dan pekerjaan nabi Muhammad, ia yakin bahwa hanya nabi muhammad lah orang yang pantas menerima perintah Tuhan untuk memimpin umat manusia.
2. Dakwah Rasulullah secara terang-terangan:
Sekitar kurang dari 3 tahun lamanya Rasulullah saw, berdakwah secara sembunyi-sembunyi. Mulailah pada tahun keempat kerasulan Muahammad saw, beliau berdakwah secara terang-terangan. Adapun yang menjadi dasar hukum dari pada pelaksanaan dawah secara terang-terangan tersebut adalah firman Allah yang berbunyi:
Maksud:
“Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik”. (QS Al-Hijr : 94)
Adapun yang disampaikan Muhammad pada waktu itu meliputi:
Bahwa Allah itu Tuhan yang maha esa. Dialah yang menjadikan dan berkuasa selama-lamanya atas alam semesta dan segala isinya.
Bahwa Allah lah Tuhan yang wajib disembah. Setiap orang wajib bersyukur dan menyembah Nya. Dialah yang menjadikan segala kehidupan di dunia
Bahwa sesungguhnya setiap orang itu adalah sama di mata Allah. Derajat manusia tidak diukur dengan keturunan, kekuasaan, kekayaan dan kepangkatan, melainkan semata-mata atas dasar ketaqwaan dan jasanya, sedangkan perbudakan dikutuk Allah
Bahwa setiap orang kaya harus menolong yang miskin, yang mampu harus menolong yang tidak mampu
Bahwa hidup manusia tidak berhenti dengan kematian. Setelah mati masih ada kehidupan di akhirat. Setiap orang mempertanggung jawabkan segala amalnya hidup di dunia ini.
Reaksi Kaum Kafir Terhadap Dakwah Nabi Muhammad:
Kaum kafir Quraisy Mekkah pada umumnya tidak senang menerima kehadiran dan seruan nabi Muhammad saw untuk memeluk agama Islam. sebagian besar dari mereka sangat membenci dan menolak serta memusuhi nabi Muhammad saw. salah satu keluarganya yang sangat memusuhi adalah Abu Lahab.
Suatu hari Abu Thalib mencoba memujuk nabi Muhammad saw agar berhenti berdakwah dan menyebarkan agama Islam kepada masyarakat Mekkah, karena ia mendapat tekanan dan ancaman dari masyarakat kafir Quraisy Mekkah.
Mendengar ajakan pamannya tersebut, nabi Muhammad saw dengan ramah menolaknya. Bahkan dengan lembut berkata kepada pamannya, “Wahai pamanku, seandainya matahari di letakkan di atas tangan kananku dan bulan ditangan kiriku, agar aku berhenti berdakwah, pasti aku tidak akan mengehentikannya”. Sehingga Allah swt memberikan kemenangan atau binasa dalam berjuang.
Di samping hinaan dan celaan, orang-orang kafir Quraisy Mekkah telah berkali-kali menyakiti pribadi nabi Muhammad. Namun demikian nabi Muhammad saw tidak pernah putus asa menyebarkan agama Islam, bahkan sebaliknya, beliau semakin sabar, giat dan bersemangat dalam berdakwah
Tekanan Terhadap para Sahabat Nabi Muhammad saw:
Perkembangan Islam yang demikian pesat semakin membuat orang kafir quraisy membenci dan berusaha menghalangi dakwah nabi Muhammad saw. berbagai cara dilakukan kaum kafir Quraisy, antara lain yaitu dengan jalan menyiksa hamba sahaya atau para budak dan orang-orang miskin menolak yang memeluk agama Islam. semua dilakukan dalam rangka menakut-nakuti serta dalam rangka mencegah berkembangnya Islam lebih banyak lagi.
Rabu, 18 Desember 2013
Minggu, 08 Desember 2013
Malam telah datang menjelang di langit kota Madinah, suasana gelap menyelimuti jagad raya. Namun Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam menerangi sudut-sudut kota dan menghidupkan malamnya. Beliau bermunajat kepada Allah Ta'ala Rabb alam semesta. Beliau memohon kepada Dzat yang mengurus segala perkara guna melaksanakan perintah Sang Pencipta:
يٰۤأَيُّهَا ٱلْمُزَّمِّلُ * قُمِ ٱلَّيْلَ إِلاَّ قَلِيلاً * نِّصْفَهُ أَوِ ٱنقُصْ مِنْهُ قَلِيلاً * أَوْ زِدْ عَلَيْهِ وَرَتِّلِ ٱلْقُرْءَانَ تَرْتِيلاً
"Hai orang yang berselimut (Muhammad), bangunlah (untuk shalat) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu, Dan bacalah Al-Qur'an itu dengan perlahan-lahan." (Al-Muzzammil: 1-4)
Abu Hurairah Radhiallahu anhu menceritakan:
Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam biasa mengerjakan shalat malam hingga membengkak kedua telapak kakinya. Ada yang bertanya kepada beliau: "Wahai Rasulullah, mengapa Anda melakukan sedemikian itu, bukankah Allah telah mengampuni segala dosa Anda yang lalu maupun yang akan datang?" beliau menjawab: "Bukankah selayaknya aku menjadi seorang hamba yang bersyukur?" (HR. Ibnu Majah).
Al-Aswad bin Yazid berkata: "Aku pernah bertanya kepada 'Aisyah Radhiallaahu anha tentang shalat malam Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam . 'Aisyah menjawab: "Biasanya beliau tidur di awal malam, kemudian tengah malamnya beliau bangun mengerjakan shalat malam. Bila merasa ada keperluan beliau segera menemui istri. Beliau segera bangkit begitu mendengar seruan azan. Beliau segera mandi bila dalam keadaan junub. Jika tidak, maka beliau segera berwudhu' lalu berangkat (ke masjid untuk) shalat." (HR. Al-Bukhari)
Shalat malam beliau sangat mengagumkan, ada baiknya kita ketahui panjang ayat yang dibacanya. Semoga dapat kita jadikan contoh dan teladan.
Abu Abdillah Hudzaifah ibnul Yaman Radhiallaahu anhu mengisahkan:
Pada suatu malam, aku pernah shalat tahajjud bersama Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam . Beliau mengawali shalat dengan membaca surat Al-Baqarah, saya berkata di dalam hati, "Mungkin setelah membaca kira-kira seratus ayat, ternyata beliau terus tidak berhenti, saya berkata lagi di dalam hati, "Mungkin, beliau selesaikan pembacaan surat Al-Baqarah. Dalam satu raka'at ternyata beliau terus memulai surat Ali Imron kemudian terus mem-bacanya saya berbicara di dalam hati: (mungkin) beliau mau ruku setelah selesai Ali-Imron, ternyata beliau terus membaca surat An Nisa sampai habis. Beliau membaca surat-surat tersebut dengan bacaan tartil. Setiap kali membaca ayat yang menyebutkan kemahasucian Allah Ta’ala beliau selalu bertasbih (mengucapkan subhanallah). Setiap kali membaca ayat yang berisikan permohonan, beliau pasti berdoa. Setiap kali membaca ayat yang menyebutkan permintaan berlindung diri kepada Allah Ta’ala, beliau segera mengucapkan ta'awwudz. Ketika ruku' beliau membaca: Subhaana Rabbiyal ‘Adzhiim ("Maha Suci Rabbku Yang Maha Agung."). Lama ruku' beliau hampir sama dengan lama berdiri. Kemudian beliau mengucapkan:
Sami’allahuliman hamidah, Rabbana lakal hamdu.
"Allah Maha mendengar terhadap hamba yang memuji-Nya. Ya Rabb kami, segala puji bagi-Mu." Kemudian beliau tegak berdiri (i'tidal), hampir sama lamanya dengan ruku'. Kemudian beliau sujud dan membaca:
Subhaana Rabbiyal ‘A’la ("Maha Suci Rabbku Yang Maha Luhur.")
Lama sujud beliau hampir sama dengan lama i'tidal." (HR. Muslim)
Widget
Search
Popular Posts
-
Lazimnya, kita beragama cuma ikut orang tua sahaja. Kita tak fikir apa agama itu benar atau salah. Jika kita lahir di timur dar.....










